Sabtu, 25 Mei 2019

KHUTBAH JUM’AT: HARI SANTRI NASIONAL


KHUTBAH JUM’AT
HARI SANTRI NASIONAL

Oleh :
KH. Abdullah Munib, Lc., M.Pd.


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله القوي المتين، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ المكين الأمين. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ الهَادِي اِلَى صرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ الْقَوِيْمِ. أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسى بتقوى الله، فقد فاز المتقون، قال الله تعالى فى القرأن الكريم: اتقو الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Marilah kita tidak lupa untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Swt, dengan lisan maupun dengan perbuatan. Juga kita selalu menjaga ketaqwaan kita kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Hari Sabtu besok, tanggal 22 Oktober kita bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam adalah hari yang diperingati secara nasional, sebagai hari Santri Nasional. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 Presiden menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal 22 Oktober sendiri merujuk pada fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asyari. Fatwa ini kemudian menggerakkan santri, kiai, dan umat Islam untuk mengusir tentara Sekutu hingga pecah peristiwa 10 November.
Ditetapkannya Hari Santri, bertujuan untuk meneladani semangat jihad keindonesiaan para pendahulu. Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah terwujud apabila tidak ada semangat jihad keindonesiaan, semangat jihad kebangsaan atau semangat jihad untuk kemerdekaan dan kemajuan Indonesia yang hidup di dada setiap elemen bangsa, sejarah mencatat para santri mewakafkan hidupnya. Untuk kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut, para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.
Para tokoh santri yang ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, di antaranya adalah KH. Hasyim As’yari (Nahdlatul Ulama), KH. Ahmmad Dahlan (Muhammadiyah), KH. A Hassan (Persis), KH. Ahmad Soorhati (Al-Irsyad) dan KH. Abdul Rahman (Matlaul Anwar). Hari Santri ditetapkan untuk menghormati perjuangan kelompok santri yang tak lepas dari upaya meraih kemerdekaan Republik Indonesia.
Walaupun ada yang keberatan dengan penetapan hari santri tersebut, disebabkan dapat menciptakan sekat di antara bangsa Indonesia. Juga dikarenakan akan dapat mengganggu persatuan bangsa dan memecah belah umat Islam. Sehingga dikhawatirkan hal ini akan memunculkan lagi dikotomi Islamisme-Nasionalisme yang sudah mulai mencair.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Lantas siapakah yang dikategorikan sebagai santri? Apakah santri adalah bagi mereka yang mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren, dan kaum abangan yang tidak pernah menuntut ilmu dipondok pesantren? Apakah hari Santri ini hanya diperingati bagi mereka yang “santri” sedang yang merasa abangan tidak merayakan?
Cliford Geertz menulis buku The Religion of Java mengelompokkan umat Islam di Jawa dalam ketegori Islam santri, priyayi dan abangan (Geertz, 1962). Istilah santri mengacu pada kelompok Muslim yang dianggap sebagai kaum putih yang berarti “muthi’” mereka yang dianggap Muslim taat. Banyak pengertian atau definisi kata “santri”. Menurut Nur Kholis Madjid sekurang-kurangnya ada 2 (dua) pendapat yang dapat digunakan sebagai acuan. Pertama. santri berasal dari kata sastri, bahasa sangsekerta yang artinya melek huruf (tahu huruf), Kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa di sebabkan pengetahuan mereka tentang agama melalui kitab-kitab yang bertuliskan bahasa Arab. Kedua, dari bahasa jawa dari kata cantrik yang artinya seseorang yang mengikuti seorang kiai di manapun ia pergi menetap untuk menguasai suatu bidang keahlian sesuai bidangnya.
Atau kata SANTRI jika ditulis dengan huruf Arab pegon maka terdiri dari 5 huruf. Yaitu, SIN, NUN, TA’, RO’ dan YA’. Huruf ini bisa mendefinisikan makna santri secara umum. Yaitu huruf SIN berarti SALIKUN ILAL-AKHIROH سالك الى الآخرة Artinya santri harus menuju pada jalan akhirat. Hal ini bisa kita fahami bahwa bukan hanya orang yang berada di pesantren saja yang harus menuju pada jalan akherat. Tapi, semua umat Islam tujuan hidupnya adalah untuk kehidupan akherat dan mempersiapkan bekal untuk menuju kesana. Sebagaimana Firman Allah
$tBur äo4quysø9$# !$uŠ÷R$!$# žwÎ) Ò=Ïès9 ×qôgs9ur ( â#¤$#s9ur äotÅzFy$# ׎öyz tûïÏ%©#Ïj9 tbqà)­Gtƒ 3 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès?
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya” (QS. Al’Anam:32)
Kemudian huruf NUN berarti نائب عن المشايخ. Generasi pengganti para guru (ulama). Ini bisa diartikan bahwa kita harus bisa menjadi generasi penerus dari para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.
 Selanjutnya huruf TA’ berarti تارك عن المعاصى seorang disebut santri harus bisa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.
Kemudian huruf RO’ berarti roghibun fil khoirot راغب فى الخيرات senang melakukan kebaikan. Seorang bisa disebut santri apabila ia suka melakukan kebaikan. Dan tanda ia suka melakukan kebaikan adalah dengan bersegera dalam melakukan kebaikan. Sebagaimana firman Allah:
 إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami”
Selanjutnya adalah huruf YA’ يرجو السلامة في الدين والدنيا والآخرة Disebut santri apabila ia selalu mengharapkan keselamatan di dalam agama, dunia dan akherat. Di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin manusia akan selamat di hari akhir. Hanya dengan pertolongan dan rahmat Allah lah manusia bisa selamat. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk berdo’a meminta kepada Allah supaya diselamatkan dalam agama, dunia dan akherat.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penetapan hari Santri pada tanggal 22 Oktober merujuk pada fatwa Resolusi Jihad bukan berarti kita harus jihad berperang melawan penjajah atau orang kafir. Jihad dalam konteks kekinian tak mesti dimaknai sebagai perang. Dikarenakan masih banyak lahan jihad yang mesti dilakukan saat ini, misalnya jihad dengan cara-cara halus di bidang ekonomi, konstitusi, kebudayaan, politik, dan lainnya. Bahkan Gamal al-Banna (1920-2013) yang juga adik bungsu dari pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna, mengatakan :
الجهاد في العصر الحديث ليس هو أن نموت في سبيل الله، بل أن نحيى في سبيل الله
Jihad di zaman modern bukanlah kita mati di jalan Allah. Akan tetapi jihad di zaman modern adalah kita hidup bersama-sama dijalan Allah.

Hadirin Jamaah Jum’at rahimakumullah
Oleh karena itu, Hari Santri adalah milik kita bersama, milik masyarakat Indonesia, milik umat Islam Indonesia. Penetapan ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan polarisasi santri dan non-santri, bukan untuk menguatkan perbedaan antara kaum santri dan abangan, dan bukan pula untuk memecah belah persatuan bangsa dan ukhuwah umat Islam. Tapi Hari Santri Nasional ditetapkan salah satunya bertujuan agar pemerintah lebih memberikan perhatian kepada para santri dan pondok pesantren, mengingatkan negara untuk peduli terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan santri, meneguhkan kontribusi santri dan pesantren di Indonesia yang memang layak mendapatkan apresiasi monumental dari bangsa, sehingga diharapkan nantinya masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama saling mendukung dan membangun Indonesia yang lebih baik, melalui santri dan pesantren yang telah banyak berjasa terhadap agama, bangsa, dan negara.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar