Rabu, 19 Maret 2014

Hukum Mengqodho Sholat Bagi Wanita Haid



Hukum Mengqodho Sholat Bagi Wanita Haid 


Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim, Aisyah berkata: Kami diperintah untuk  mengqodho puasa, dan tidak diperintah untuk mengqodho sholat. Jadi, tidak wajib mengqodho sholat yang ditinggalkan saat haidh, kecuali jika ia mendapatkan sebagian dari waktunya sebanyak satu raka’at sempurna, baik pada awal maupun akhir waktu sholat.
Contoh pada awal waktu: seorang wanita datang haidh setelah matahari terbenam tetapi ia sempat mendapatkan satu raka’at dari waktu (shalat maghrib). Maka, wajib baginya setelah suci mengqadha shalat maghrib tersebut .
Adapun contoh pada akhir waktu: seorang wanita suci dari haid sebelum matahari terbit dan masih mendapat satu raka’at dari waktu (shalat shubuh). Maka, wajib baginya mengqodho sholat shubuh tersebut setelah bersuci.
Namun, jika wanita yang haid mendapatkan sebagian dari waktu shalat yang tidak cukup untuk satu raka’at sempurna, seperti datang haid sesaat setelah matahari terbenam atau suci dari haid sesaat sebelum matahari terbit, maka shalat tersebut tidak wajib baginya.
Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori yang artinya:
“Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari sholat, maka dia telah mendapatkan shalat.”
Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Ibnu Utsaimin berpendapat, bahwa tidak wajib baginya kecuali shalat yang didapatkan sebagian waktu saja, yaitu shalat Ashar dan Isya’.


 Hukum Mengqodho Sholat yang Memungkinkan Dijama’ Bagi Wanita Haid (Setelah Ia Suci)



Jika Telah Suci Saat Shalat Ashar atau Isya, Apakah Wajib Melaksanakan Shalat Zhuhur dan Maghrib
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya: Jika seorang wanita telah suci dari haidhnya diwaktu Ashar atau di waktu Isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat Zhuhur dan Maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan untuk dijama’?
Beliau menjawab : Jika seorang wanita telah suci dari haidh atau nifasnya di waktu Ashar, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan menjama’ keduanya menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti orang sakit dan musafir, dan wanita ini pun mendapatkan halangan dikarenakan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haidh. Demikian pula jika ia mendapatkan kesuciannya di saat Isya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dengan cara menjama’ sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa sahabat telah menfatwakan hal ini. Wallohu a’lam

Jumat, 25 Januari 2013

Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan


Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al Qur’an, 7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:“… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun, 64:14)
Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih.
Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:
Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih - memperburuk keadaan.
Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin.
Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan -sebagaimana segala sesuatu lainnya - haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

BAGAIMANA MENYAYANGI SESEORANG


hantaran
1. Sayangi dia dengan hati, bukan dengan perasaan. Jika anda
meletakkan sesuatu perhubungan berdasarkan perasaan, ianya akan
gagalkerana perasaan sentiasa berubah dari masa ke semasa.

2. Sayangi dia seadanya. Di dunia terdapat hampir 6 billion manusia
dengan 6 billion personaliti. Dia sememangnya seorang yang istimewa
dan biarkan ianya kekal begitu. Jangan sesekali terfikir untuk
mengubah apa-apa tentang dia kerana sekali anda mengubah, selamanya
anda akan terus mengubah dirinya. Tentu anda masih ingat, anda
terpikat padanya kerana dia adalah dia. Maka, tiada alasan untuk
anda mengubah dia untuk menjadi seseorang yang lain.

3. Sayangi dia sepenuh hati. Sesungguhnya dia telah banyak bekorban
untuk anda. Dengan kelebihan yang ada padanya, dia berpeluang untuk
menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih sempurna tapi demi
cinta, dia telah memilih diri anda. Maka, jangan sesekali cuba untuk
mempermain-mainkan keluhuran cintanya.

4. Hormati pendirian dan keputusan dia. Jangan anda merayu dan
jangan mencipta alasan supaya dia menerima cinta anda kerana kelak,
yang anda akan dapat darinya hanyalah cinta simpati dan bukannya
cinta setulus hati.

5. Yakinkan diri anda akan keistimewaan dia. Dia adalah satu-satunya
di dunia ini dan jangan mengharapkan kesempurnaan dari dia kerana
dia telahpun cukup sempurna semenjak anda mula terpikat padanya.

6. Percaya akan dirinya. Sentiasa bersangka baik padanya jika kita
juga mahukan sebegitu darinya. Pastikan anda akan sentiasa
meletakkan diri anda di tempatnya sebelum melakukan apa-apa. Jika
anda sendiri tidak dapat menerimanya, apatah lagi dia.

7. Jangan berjanji menyayangi dia untuk selama-lamanya kerana selama-
lamanya bagi anda mungkin akan berakhir keesokkan harinya, tapi
berjanjilah untuk menyayangi dirinya seolah-olah setiap hari itu
adalah hari yang terakhir untuk anda berdua.

8. BERCINTA dengannya adalah seperti memberi hati anda kepadanya
untuk dilukai tapi kepercayaan itu penting. Percayalah kepadanya,
nescaya dia akan melindunginya sepenuh jiwa dan raga.

9. Jangan sesekali meninggalkan dia tanpa sebarang alasan. Dia bukan
hanya akan setakat menangis kecewa dan kemudiannya meneruskan hidup
seperti biasa, ketahuilah bahawa jiwanya akan mati secara perlahan.

10. Jangan cepat berbangga dengan diri anda, memenangi hatinya
bukanlah satu kejayaan yang mutlak tetapi anugerah itu hanya layak
anda perolehi setelah anda berjaya menyayanginya sehingga ke akhir
hayat. Ketahuilah, dia memilih anda adalah kerana dia percaya bahawa
anda adalah seorang yang jujur dan akan menepati janji. Anda telah
bersusah payah dan berusaha sedaya upaya untuk memenangi cintanya,
maka dengan itu haruslah juga anda berusaha untuk terus menyintai
dirinya dengan apa jua keadaan sekalipun.

Take it from :http://ayatcinta.wordpress.com

C.I.N.T.A





CINTA BUKANLAH DARIPADA KATA-KATA TETAPI SEGUMPAL KEINGINAN YANG
DIBERIKAN KEPADA HATI YANG MEMERLUKAN
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dirinya sekarang dan bukan
siapa dia sebelumnya.Malah kisah lampau yang berlaku tidak perlu
diungkit lagi sekiranya hati benar-benar menyintai dirinya.
Sememangnya hidup bercinta dan untuk dicintai amat mudah,tetapi
untuk dicintai oleh orang yang kita cintai sukar diperoleh.Ikuti tip
bagi memelihara CINTA SEJATI… ..
1. PILIH PASANGAN YANG SESUAI
Jangan sesekali jatuh cinta dengan seseorang yang sangat
berpotensi.Wang dan rupa bukanlah penyuntik cinta sejati. Terlalu
banyak pasangan memilih teman hidup yang sebegini dengan harapan
mereka berpeluang menikmati segalanya.
Secara jujur,tanyalah pada diri sendiri quot; Dapatkah aku mencintai
dia dengan cara yang sebenarnya tanpa harapan untuk berubah?” Jika
tidak,buatlah keputusan untuk cari yang lain.
2.JANGAN TERBURU-BURU
Jangan menurut kehendak nafsu seks. Pasangan yang melakukan hubungan
seksual akan mencipta suatu keintiman yang salah dan boleh menuju ke
arah kekecewaan.
3.PERCAYA AKAN KELEMAHANNYA
Jangan mengabaikan keputusan untuk memiliki sesuatu hubungan atau
perkara yang diingininya. Misalnya jika pasangan membuat suatu
pernyataan seperti,’ Saya tidak melaksanakan komitmen dengan baik’,
percayalah dia.
Anda seharusnya tanya pada diri sendiri: “Adakah dia sudah bersedia
menghabiskan sepenuh waktu untuk aku atau semata-mata untuk hobinya
kemudian baru mengingati aku.”
4.TUTUP MULUT
Jangan cuba menceritakan tentang keburukan atau kelemahan pasangan
kepada rakan. Bertanggungjawab dalam mengungkapkan perasaan anda
terhadapnya dan saling merahsiakan antara satu sama lain.Cara
sebegini dapat mengelakkan daripada berlakunya sesuatu konflik dan
hubungan emosional anda berdua.
5.TERIMA SEADANYA
Terima pasangan dengan niat hati yang ikhlas.Bukan hanya sewaktu
bercinta, pada awal perkahwinan dan sewaktu berbulan madu,tetapi
amalkan date night sekali seminggu.
6.JADI PEMERHATI
Bersikap pemerhati kepada pasangan. Cuba memerhati dan memahami
tingkah laku dan pemikirannya. Paling penting, sentiasa mengambil
berat setiap apa yang berlaku. Ini mengelakkan daripada pasangan
berani menipu dan cuba melakukan sesuatu di luar jangkaan.
7.BUKTIKAN SIAPA DIRI ANDA
Fokus pada setiap perkara yang anda gemari dan tidak daripada
pasangan,serta cuba berbincang cara bagaimana menyelesaikan masalah
tersebut berdua.
8. MR. RIGHT KEMBALI
Sedang asyik bercinta,orang yang pernah terpaut di hati anda suatu
masa dahulu,tiba- tiba muncul di hadapan.Bagi anda yang menghadapi
masalah sebegini,adalah suatu perkara sukar untuk
diselesaikan ,bukan? Parasaan buntu dan bercelaru tentunya datang
dan memaksa diri membuat keputusan.
Buat keputusan agar tidak menyintainya lagi. Lupakan segala sejarah
silan dengan memulakan kehidupan dan cinta yang baru.
9.BUKAN PERIGI CARI TIMBA
Anda tidak pernah merasakan bahawa cinta sejati seperti objek yang
keras seperti seolah-olah berkelakuan syok sendiri. Malah anda
haruslah sama-sama berinteraksi dan berbincang terhadap apa yang
berlaku dalam perhubungan.
10.HARGAI DIRI SENDIRI DAN PASANGAN
Hubungan yang sihat akan meningkatkan penghargaan diri dan pasangan.
Untuk memperoleh hubungan yang lebih harmoni, setiap pasangan perlu
menghargai diri sendiri dengan cuba mengungkapkan kata-kata romantis
atau lakukan sesuatu kejutan terhadap dirinya.

Jumat, 18 Januari 2013

10 Kriteria Pemimpin Menurut Ajaran Islam

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.

Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :

1.Beriman dan Beramal Shaleh
Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.

2.Niat yang LurusHendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Karena suatu amalan itu bergantung pada niatnya, itu semua telah ditulis dalam H.R bukhari-muslimDari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb r.a, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

3.Laki-Laki
Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).

Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita. Menurut Imam Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, hakim atasnya, dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan tertinggi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

4.Tidak Meminta JabatanRasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

5.Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

6.Memutuskan Perkara Dengan AdilRasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

7.Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

8.Tidak Menerima HadiahSeorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

9.Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

10.Lemah LembutDoa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.
Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur),Tablig(menyampaikan),amanah(dapat dipercaya),fatonah(cerdas)
Sidiq itu berarti jujur. Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.
Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan Mahasiswa dan sebagai penerus bangsa.

Kamis, 17 Januari 2013

Wanita pertama masuk surga
adalah wanita yang mentaati suaminya

Suatu hari, puteri Nabi SAW. Fatimah Az-Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW. Siapakah wanita pertama yang masuk surga setelah para “Ummahatul mukminin” (isteri-isteri Nabi SAW)? Rasulullah bersabda : Dialah MUTHI’AH.
Siti Fatimah adalah anak Rasulullah yang mempunyai budi pekerti yang baik dan beliau amat taat kepada ajaran Islam, dan sifat-sifatnya sama seperti bapaknya, yakni Nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang bercerita tentang keni’matan surga kepada Siti Fatimah, maka baginda pun bersabda, “Aduhai anakandaku, ada seorang wanita dari kalangan orang kebanyakan (orang awam) yang pertama akan masuk surga lebih dahulu daripada kamu”.
Mendengar kata-kata ayahandanya itu, maka berubahlah raut mukanya lantas ia menangis dan berkata, “Siapakah perempuan itu wahai ayahanda? Seperti apa perempuan itu dan bagaimana pula amalannya sehingga dia dapat lebih dahulu masuk surga daripada ananda? Ayahanda, katakanlah di mana dia sekarang?”
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Dia adalah seorang wanita yang miskin, tinggal di Jabal Uhud, kira-kira 3 batu dari Madinah”. Tanpa buang-buang waktu, Siti Fatimah pun pergi mencari perempuan yang dikatakan masuk surga terlebih dahulu daripadanya. Setelah dia sampai ke rumah perempuan itu, lalu dia mengetuk pintu sambil memberi salam.
Perempuan yang Rasulullah maksudkan itu membuka pintu dan menanyakan hajat Siti Fatimah datang ke rumahnya tanpa mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Siti Fatimah berkata, “Saya datang kemari karena ingin ketemu dan berkenalan dengan anda”. Perempuan itu menjawab, “Terima kasih bu, tetapi saya tidak berani mempersilakan ibu masuk, karena suami saya tidak ada di rumah. Nanti saya minta izin kalau dia pulang. Silakan datang lagi besok”.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Siti Fatimah pulang, kerana tidak dapat masuk dan berbicara panjang lebar dengan perempuan tersebut. Keesokan harinya, beliau kembali lagi ke rumah perempuan itu dengan membawa anaknya yang bernama Hasan. Ketika tiba di pintu rumah perempuan tersebut dan hendak dipersilakan masuk, tiba-tiba perempuan itu melihat ada anak kecil bersama Siti Fatimah, lalu dia bertanya, “Ini siapa?”. Putri Rasulullah itu menjawab, “Ini anak saya, namanya Hasan”. Perempuan itu lantas berkata, “Saya minta maaf, kerana saya belum meminta izin untuk anak ini masuk kepada suami saya”.
Siti Fatimah jadi serba salah, lalu beliau pun kembali ke rumahnya. Besoknya Siti Fatimah datang lagi ke rumah perempuan itu, tapi kali ini beliau membawa kedua putranya, yaitu Hasan dan Husain. Perempuan ahli surga itu terkejut melihat ada seorang anak kecil lagi yang belum dimintakan izin kepada suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Siti Fatimah tersipu malu, lalu dia pulang dengan perasaan hampa.
Dalam perjalanan pulang, hatinya berkata-kata, “Perempuan ini sangat takut kepada suaminya, sehingga masalah yang begini saja dia tidak berani melakukannya. Padahal jika dia mengizinkan aku masuk, tidak mungkin suaminya marah. Tidak usahlah memandang aku ini siapa dan dua anak ini cucu siapa, pandanglah aku sebagai tamu dari jauh, sudahlah” bisik hatinya sambil menangis terisak-isak.
Begitu suami perempuan itu pulang, perempuan itu memberitahu perihal anak laki-laki lagi yang dibawa oleh Siti Fatimah. Suaminya terkejut dan heran, seraya berkata, “Kenapa kamu tahan sampai begitu? Bukankah Siti Fatimah itu putri Rasulullah SAW dan dua orang anaknya itu cucu baginda. Di samping itu, kamu harus yakin, bahwa keselamatan kita berdua kelak bergantung pada keredhaan Rasulullah saw. Jangan kamu lakukan seperti itu lagi, jika dia membawa siapa pun, terimalah mereka dengan baik dan hormatilah mereka semua”.
Istrinya menyahut, “Baiklah, tetapi maafkanlah kesalahan saya kerana saya mengerti bahwa keselamatan diri saya ini bergantung pada keredhaanmu, sebagai suami saya. Oleh karena itu, saya tidak berani melakukan sesuatu yang akan membawa kemarahan atau menyakiti hatimu”.
“Terima Kasih” sahut suaminya.
Pada hari berikutnya, Siti Fatimah datang lagi dengan membawa dua orang putranya. Setelah dipersilakan masuk dan dijamu dengan buah kurma dan air, mereka pun memulai percakapan. Sedang enak-eank berbincang-bincang, tiba-tiba perempuan itu berdiri dan berjalan menuju pintu rumahnya sambil memandang ke arah jalan, seolah-olah sedang menanti kedatangan seseorang dengan tidak begitu mempedulikan Siti Fatimah. Siti Fatimah melihat di tangan perempuan itu ada sebuah tongkat dan sebuah gelas berisi air, sementara tangan yang satu lagi mengangkat ujung kain, sehingga menampakkan betis dan pahanya, sedangkan wajahnya penuh dengan senyuman yang manis.
Melihat keadaan seperti itu, dengan perasaan resah kerana tidak dipedulikan, lalu Siti Fatimah bertanya, “Mengapa jadi begini?” Perempuan itu menyahut, “Ibu, mohon maafkan saya, kerana saya sedang menantikan kepulangan suami saya”.
“Untuk apa segelas air itu?” tanya Siti Fatimah.
Jawab perempuan itu, “Barangkali suami saya haus ketika dia pulang, saya akan segera memberikan air ini kepadanya supaya tidak terlambat. Jika terlambat nanti dia akan marah”.
Kemudian Siti Fatimah bertanya lagi, “Untuk apa pula tongkat itu?”
Perempuan itu menjawab, “Jika suami saya marah, mudahlah dia memukul saya dengan tongkat ini”.
Siti Fatimah bertanya lagi, “Kenapa pula anda mengangkat kain anda sehingga menampakkan aurat, bukankah itu haram?” Maka perempuan itu berkata, “Jika dia menginginkan saya, lalu dia pandang saya begini, tentulah akan menambah syahwat dan nafsunya yang memudahkan pada maksudnya”.
Seusai perempuan itu menjawab segala pertanyaannya, Siti Fatimah termenung dan heran lalu dia berbisik, “Jika begini kelakuan dan perangainya terhadap suaminya, tidak mampulah aku mengikutnya. Patutlah dia masuk surga dahulu daripada aku serta wanita-wanita lain. Ternyata benarlah bahwa keselamatan seorang perempuan yang bersuami itu bergantung kepada ketaatan dan keredhaan suami terhadapnya”.
Sambil terisak-isak menangis dan meneteskan air matanya, Siti Fatimah meminta izin untuk pulang dan beliau segera menghadap ayahandanya, Rasulullah saw lalu berkata, “Ananda merasa sangat sedih dan lemah semua sendi, kerana tidak dapat meniru dan melakukan sebagaimana perangai dan amalan perempuan yang ayahanda maksudkan itu”.
Begitu Rasulullah saw mendengar rintihan putrinya, lalu baginda bersabda sambil tersenyum, “Putriku, janganlah kamu bersedih. Perempuan yang ananda jumpa itu alah perempuan yang akan menuntun dan memegang tali kendali tungganganmu ketika kamu masuk surga. Jadi, dialah yang masuk terlebih dahulu”. Setelah mendengar penjelasan itu, barulah Siti Fatimah tersenyum.

Dari kisah di atas, dapat kita lihat bahwa ketaatan seorang isteri kepada suaminya adalah sangat penting dalam institusi rumah tangga. Oleh karena itu, kepada semua wanita yang bergelar iseri, fahamilah seruan cerita ini, taatlah serta berbuat baiklah kepada suami, niscaya kau akan diridhai oleh suami anda. Fikirkanlah sejenak, di mana kedudukan anda sekarang di sisi Allah? Kerana keredhaan Allah tergantung keredhaan suami anda.

Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka.

Minggu, 13 Januari 2013

24 Peringatan Buat Wanita

1. Urusan pertama yang ditanyakan pada hari akhirat nanti ialah mengenai solat dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajipannya atau tidak).
2. Apabila wanita itu lari dari rumah suaminya maka tidak diterima solatnya sehingga kembali ia dan menghulurkan tangannya kepada suaminya (meminta ampun).
3. Siapapun perempuan yang memakai wangi-wangian, kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki ajnabi agar mereka tercium bau harumnya, maka dia adalah perempuan zina dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina.
4. Sebaik-baik wanita ialah tinggal di rumah, tidak keluar kecuali atas urusan yang mustahak. Wanita yang keluar rumah akan dipesonakan oleh iblis. Sabda Nabi s.a.w., “Perempuan itu aurat, maka apabila ia keluar mendongak syaitan memandang akan dia.”
5. Haram bagi wanita melihat lelaki sebagaimana lelaki haram melihat wanita yang halal nikah (kecuali dalam urusan menuntut ilmu dan transaksi jual beli).
6. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. bersama isteri-isterinya (Ummu Salamah r.ha. dan Maimunah r.ha.), datang seorang sahabat yang buta matanya (Ibnu Ummi Maktum) Rasulullah saw. menyuruh isteri-isterinya masuk ke dalam. Bertanya Ummu Salamah, “Bukankah orang itu tidak dapat melihat kami, Ya Rasulullah ?” Rasulullah saw. Balik bertanya, “Bukankah kamu dapat melihatnya.”
7.    Perempuan yang mengenakan pakaian dalam keadaan berhias (bukan untuk suami dan mahramnya) adalah seumpama gelap-gulita pada hari Qiamat, tiada Nur baginya.
8. Siapapun wanita yang bermuka masam, menyebabkan suaminya tersinggung, maka wanita itu dimurkai Allah sehingga ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya.
9. Tidak boleh seorang istri mengerjakan puasa sunnah kalau suaminya ada di rumah serta tidak mengizinkan dia berpuasa.
10.    Hendaklah isteri berpuas hati (redha) dengan suaminya yang telah dijodohkan oleh Allah, baik dalam kondisi miskin atau kaya.
11.    Perempuan tidak berhak keluar dari rumahnya melainkan jika terpaksa (kerana sesuatu urusan yang mustahak) dan ia juga tidak berhak melalui jalan lalu lalang, melainkan di tepi-tepinya.
12.    Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidur, tetapi dia menolaknya hingga marahlah suaminya, maka semalaman wanita itu dilaknat oleh malaikat hingga pagi.
13.    Wanita-wanita yang menggunakan lidahnya untuk menyakiti hati suaminya, ia akan mendapat laknat dan kemurkaan Allah, laknat malaikat juga laknat manusia sekalian.
14.    Tidak boleh seseorang manusia sujud kepada manusia. Seandainya diperbolehkan, maka akan aku perintahkan semua kaum wanita sujud pada suaminya, kerana besarnya hak-hak suami mereka.
15.    Wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya pada hari Qiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat ke belakang lehernya.
16.    “Aku lihat api neraka, tidak pernah aku lihat seperti hari ini, karena ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakan ahli neraka ialah wanita.” Rasulullah saw. ditanyai, “Mengapa demikian Ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah saw. “Wanita mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan kebaikannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum rasa berpuas hati dan cukup.”
17.    “Kebanyakan ahli neraka adalah terdiri dari kaum wanita.” Maka menangislah mereka dan bertanya salah seorang dari mereka, “Mengapa terjadi demikian, apakah karena mereka berzina atau membunuh anak atau kafir?” Jawab Nabi s.a.w. “Tidak, mereka ini ialah mereka yang tidak bersyukur akan nikmat suaminya. Sesungguhnya tiap-tiap seorang kamu adalah dalam nikmat suaminya.”
18. Keadaan wanita 10 kali lipat seorang lelaki di dalam neraka dan 2 kali lipat seorang lelaki di dalam surga.
19. “Kebanyakan wanita itu adalah penghuni neraka dan menjadi kayu bakar api neraka.” Spontan Aishah bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah s.a.w.?” Jawab Rasulullah s.a.w.:
a.    Kerana kebanyakan perempuan itu tidak sabar dalam menghadapi kesusahan, kesakitan dan cobaan seperti kesakitan melahirkan anak, mendidik anak-anak dan melayani suami serta melakukan kerja-kerja rumah.
b.    Tiada memuji (bersyukur) atas kemurahan Allah yang didatangkan melalui suaminya. (Jarang terdapat orang perempuan yang mau mengucapkan terima kasih atas pemberian suaminya.)
c.    Sering mengkufurkan (ingkar) terhadap nikmat Allah. (Contohnya: Apabila berlaku sesuatu pertengkaran ada isteri yang berkata sudah 10 tahun kahwin dengan awak tidak ada apa-apa pun.)
d.    Gemar bercakap perkara yang sia-sia yang berdosa. (Contohnya: Bercakap mengenai perabot-perabot rumah yang tidak perlu dan mengumpat.)
e.    Kurang akal dan kurang ilmu pengetahuannya dalam agama, yaitu mereka sering tertipu atau terpengaruh dengan bujuk rayu laki-laki, rekan-rekan, alam sekitar dan suasana serta kemewahan lahiriah.
20. Dari Ali bin Abi Talib r.a.: Aku dengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tiga golongan dari umatku akan masuk neraka Jahanam selama 7 kali umur dunia. Mereka itu adalah:”
a. Orang yang gemuk tapi kurus
b. Orang yang berpakaian tetapi telanjang
c. Orang yang alim tapi jahil
* Adapun yang gemuk tapi kurus itu ialah wanita yang sihat tubuh badannya tetapi kurang ibadat.
* Orang yang berpakaian tetapi telanjang ialah wanita yang cukup pakaiannya tetapi tidak taat agama.
* Orang yang alim tapi jahil ialah ulama yang menghalalkan yang haram kerana kepentingan peribadi.
21.    Asma’ binti Kuraizah al-Fazari r.ha. diriwayatkan telah berkata kepada puterinya pada hari perkahwinan anaknya itu, “Wahai anakku, kini engkau akan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenali. Itulah suamimu. Jadilah engkau tanah bagi suamimu (taat perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai, supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan berbagai kesukaran, karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu. Kalau ia mendekatimu, dekatilah ia dan jika ia menjauhimu maka jauhilah ia dengan baik. Peliharalah benar-benar suamimu itu akan hidungnya, pendengarannya, matanya dan lain-lain. Janganlah pula ia mendengar melainkan yang enak dan janganlah ia melihat melainkan yang indah saja pada dirimu.
22. Pesanan Luqman kepada anaknya, “Sepanjang hidupku, aku hanya memilih 8 kalimah dari pusaka para Nabi yang lalu yaitu:”
a. Apabila engkau sedang shalat kepada Allah SWT, maka jagalah baik-baik fikiranmu.
b. Apabila engkau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
c. Apabila engkau berada di tengah-tengah majlis, maka jagalah lidahmu.
d. Apabila engkau hadir dalam jamuan makan, maka jagalah perangaimu.
e. Ingat kepada Allah SWT
f. Lupakan budi baikmu kepada orang lain.
g. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.
h. Ingat kepada mati.
23. Perkara-perkara yang menjadikan wanita itu durhaka kepada suaminya seperti tersebut di dalam kitab Muhimmah:
a. Menghalang suami dari bersuka-suka dengan dirinya sama ada untuk jimak atau menyentuh mana-mana bahagian tubuhnya.
b. Keluar rumah tanpa izin suami, baik ketika suami ada di rumah atau pun tidak.
c. Keluar rumah karena belajar ilmu yang bukan ilmu Fardhu Ain.
Dibolehkan keluar untuk belajar ilmu Fardhu Ain jika suaminya tidak mampu mengajar.
d. Enggan berpindah (berhijrah) bersama suaminya.
e. Mengunci pintu, tidak membiarkan suami masuk ke rumah ketika suami ingin masuk.
f. Bermasam muka ketika berhadapan dengan suami.
g. Minta talak.
h. Berpaling atau membelakangi suami ketika bercakap.
i. Menyakiti hati suami baik dengan perkataan atau perbuatan.
j. Meninggalkan tempat tidur tanpa izin.
k. Membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah sedangkan ia tidak disukai oleh suaminya.
24. Wajib bagi wanita:
a.    Senantiasa malu pada suaminya.
b.    Merendahkan (menundukkan) mata ketika berpandangan.
c.    Mengikut kata-kata dan suruhannya.
d.    Dengar dan diam ketika suami berkata-kata.
e.    Berdiri menyambut kedatangannya.
f.    Berdiri menghantar kepergiannya.
g.    Hadir bersamanya ketika tiba waktu tidur.
h.    Memakai farfum yang harum untuk suaminya.
i.    Membersihkan dan menghilangkan bau mulut untuk suaminya.
j.    Berhias ketika suami di rumah dan tinggalkan berhias ketika suami tiada.
k.    Tidak khianat ketika tiada suaminya.
l.    Memuliakan keluarga suaminya.
m.    Memandang pemberian suaminya yang kecil sebagai suatu yang besar dan berharga.
n.    Ketahuilah, surga dan neraka bagi seorang wanita itu bergantung pada redha atau tidaknya suami padanya.

Cara-Cara Melayan Suami
Tips Cinta ini telah disampaikan oleh saudari Bee di Forum Tentang Cinta.
Kehadiran suami di rumah merupakan satu rahmat kepada setiap isteri. Hanya isteri-isteri yang mendurhakai suami saja yang menganggap kepulangannya suatu yang dibenci karena dibebani dengan berbagai pekerjaan dan tanggungjawab. Amat malang sekali jika masih banyak isteri-isteri yang masih bersikap demikian. Hilanglah tujuan perkawinan apabila isteri sebagai penenang dan penyeri rumah tangga. Di bawah ini dinyatakan cara-cara berhadapan dengan suami.
1. Sewaktu suami berbicara, hendaklah isteri diam mendengarnya dan jangan suka menyahut atau memotong ucapannya.
2. Bila suami marah hendaklah isteri diam, jangan suka menjawab. Sikap suka menjawab, membantah dan menegakkan kebenaran sendiri akan menambah kemarahan suami. Jangan terkejut jika suami angkat kaki meninggalkan rumah berhari-hari atau tidak tahu bertegur sapa dengan anda sebagai denda atas kedegilan anda sebagai isteri. Sebaliknya, kalau suami kembali ke rumah jangan disambung atau diulang-ulangi cerita lama. Sambutlah suami dengan senyuman kasih sayang dan bersegeralah meminta maaf. Jangan tunggu suami meminta maaf dengan isteri, jatuhlah martabat keegoannya selaku seorang lelaki.
3. Kadang-kadang suami sengaja suka mengusik isterinya. Bila dia menyakiti hati isteri hendaklah banyak bersabar, jangan cepat merajuk. Merajuk adalah sifat orang yang tidak dewasa dan seperti perangai keanak-anakan. Coba kita perhatikan perangai kanak-kanak, mereka akan cepat menjerit bila ada sesuatu yang tidak berkenan, terutama kalau yang menegurnya itu ibunya sendiri. Sengaja dihentak-hentakkan kaki meraung sekuat hati meminta simpati dari ibunya.
4. Bila kuku, misai dan janggutnya panjang hendaklah segera dipotongkan (jika panjang janggutnya lebih dari segenggam). Pilihlah hari-hari yang terbaik yaitu hari Senin, Kamis dan Jum’at.
5. Jika dia berhajat sesuatu hendaklah isteri cepat bertindak. Bangun segera bila disuruh. Jangan melengah-lengahkan kemauannya, supaya tidak menimbulkan kemarahan atau rasa tersinggung di hatinya. Janganlah isteri acuh tak acuh, hatinya akan kecewa dan menandakan isteri sudah tidak taat padanya.
6. Hendaklah memasak mengikut kesukaan suami bukannya ikut selera isteri. Kalau suami suka makan gulai kari atau masak lemak cili api, janganlah kita masak lauk asam pedas atau ikan goreng. Suami akan gembira bila seleranya ditepati. Janganlah pula ikan yang menjadi mangsa, diketuk lengkang-lengkung hingga hancur kerana meradangkan sikap suami yang mahu lauk tersebut dimasak mengikut seleranya sedangkan isteri tidak menggemarinya.
7. Apabila pakaian suami robek atau lepas kancingnya, hendaklah segera dijahit. Jahitlah dengan sebaik yang anda bias, supaya pakaian itu kelihatan kemas dan cantik. Jangan dibuat sambil lalu karena jahitan tersebut akan melambangkan peribadi isteri baik ikhlas atau terpaksa. Semua suami akan merasa bangga jika pakaiannya dijahit sendiri oleh jari-jemari halus isterinya, sekurang-kurangnya dapat menampung ekonomi rumahtangga.
8. Sediakan selalu barang-barang keperluan di dalam saku baju dan tas suami yaitu sikat, celak, cermin kecil, minyak wangi dan kayu siwak. Jangan menjadi kesalahan seandainya suami menolak segala persediaan tersebut tetapi sekurang-kurangnya sediakanlah minyak wangi dan kayu siwak.
9. Bila bertembung kehendak suami dan anak-anak, dahulukanlah kehendak suami, begitu juga dengan kehendak ibu ayah. Sekiranya suami ingin dilayan hendaklah ditaati meskipun isteri berada di dalam keadaan letih. Melayani suami merupakan satu pahala besar keatas setiap isteri kecualilah jika suami kita meredhainya.
10. Apabila menggunakan harta suami ataupun duit yang hendak kita hadiahkan kepada ibu bapa maka mintalah izin darinya terlebih dahulu. Jangan beri dahulu kemudian baharu diberitahu kepadanya. Siapa tahu mungkin wang itu amat diperlukan sedangkan isteri sewenang-wenangnya telah menghadiahkan kepada orang lain, suami dapat pahala sedangkan isteri tidak dapat apa-apa. Sebenarnya meminta izin itu ialah sebelum melakukan sesuatu tindakan bukannya setelah perkara itu berlaku diberitahu. Ini silap sebenarnya tapi kes-kes seperti inilah yang sering berlaku di kalangan para isteri.
11. Sentiasa berada di dalam keadaan bersih dan kemas ketika suami berada di rumah. Isteri hendaklah berada di dalam keadaan berwangi-wangian supaya hatinya senang untuk bersenda gurau dengan isterinya.Ketahuilah bahawa bersenda gurau antara suami isteri juga merupakan salah satu ibadah yang diredhai oleh Allah swt.
12. Air minum suami hendaklah sentiasa disiapkan jangan sampai dia minta biarpun sekadar air masak sejuk. Sebaik-baiknya sediakanlah minuman panas seperti kopi, teh atau susu. Air panas elok disimpan di dalam termos supaya memudah dan menjimatkan masa kita. Kalau boleh sediakan kuih-kuih ringan seperti karipap, cucur, bubur, apam ataupun biskut kering. Hal ini juga dapat mengelak anak-anak dari membeli makanan ringan di kedai yang tidak mengandungi zat di samping tidak terjamin kebersihannya.
Akhir kata hendaklah isteri sentiasa menghormati dan memuliakan keluarga suami. Bersikap ramah-tamahlah dengan keluarganya dan bersabarlah di atas segala tindakan mereka jika ada yang bertentangan dengan syariat. Di sinilah peranan isteri untuk berdakwah kepada mereka tetapi biarlah berhikmah dan kena caranya agar setiap tindak-tanduk kita dikasihi dan dihargai oleh mereka seterusnya menjadi menantu atau ipar yang dicontohi akhlak, peribadi dan ibadahnya